KAMPAR, voiceriau.com – Harapan delapan desa terisolir di sepanjang aliran Sungai Subayang, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, untuk menikmati penerangan listrik mulai memasuki tahap nyata. Sejumlah batang sawit di lahan yang akan menjadi jalur jaringan listrik mulai dieksekusi, Senin (21/9/2026).
Proses tersebut menjadi bagian dari persiapan pembukaan akses jaringan listrik menuju delapan desa yang selama ini belum mendapatkan layanan listrik secara memadai. Langkah itu dilakukan setelah persoalan lahan yang menjadi salah satu bagian penting dalam pembangunan jaringan mulai ditangani secara bersama-sama.
Ketua Fraksi NasDem DPRD Kabupaten Kampar, Eko Sutrisno, turun langsung ke lapangan bersama Camat Kampar Kiri Hulu Bustamar dan Ketua BPD Tanjung Belit Selatan Dedi untuk melihat progres eksekusi lahan tersebut.
Di lokasi, sejumlah batang sawit yang berada pada jalur rencana pemasangan tiang listrik mulai ditebang menggunakan peralatan milik pelaku usaha setempat. Pembukaan jalur ini diharapkan memperlancar persiapan pembangunan jaringan listrik yang akan menjangkau delapan desa di kawasan aliran Sungai Subayang.
“Alhamdulillah, hari ini sudah dieksekusi sesuai yang kita sampaikan. Ini leader di lapangan Pak Dedi selaku Ketua BPD Tanjung Belit Selatan dan Bang Camat Bustamar yang selama ini membantu mengoordinasikan komunikasi bersama,” kata Eko.
Menurut Eko, persoalan akses listrik tidak semata-mata berkaitan dengan pembangunan jaringan, tetapi juga membutuhkan kesediaan berbagai pihak untuk menyelesaikan persoalan di lapangan. Karena itu, pembukaan jalur jaringan dilakukan melalui komunikasi dengan masyarakat dan pelaku usaha setempat.
Ia berharap langkah kecil di lapangan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya yang lebih besar untuk membuka keterisolasian delapan desa di Kampar Kiri Hulu.
“Semoga apa yang dilakukan kawan-kawan hari ini menjadi pahala bersama. Ketika ada persoalan, kita bicarakan bersama. Insyaallah ada solusinya,” ujarnya.
Eko mengatakan progres pembukaan lahan tersebut merupakan persiapan penting sebelum jaringan listrik dibangun. Dengan jalur yang mulai dibuka, proses menuju pemasangan tiang dan pembangunan jaringan diharapkan dapat berjalan lebih lancar.
“Segera kita merdeka dari ketertinggalan di bidang kelistrikan. Semoga niat baik bersama ini dimudahkan Allah,” katanya.
Apresiasi dari Masyarakat
Ketua BPD Tanjung Belit Selatan, Dedi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses tersebut, khususnya Eko Sutrisno yang dinilainya terus berjibaku mendorong terwujudnya penerangan listrik bagi masyarakat di delapan desa terisolir.
Menurut Dedi, kehadiran listrik bukan hanya menyangkut penerangan rumah warga. Akses energi juga berkaitan dengan aktivitas pendidikan, pelayanan masyarakat, komunikasi, serta peluang ekonomi bagi warga yang selama ini hidup jauh dari jaringan listrik.
Ia berharap proses yang telah dimulai di lapangan dapat terus dikawal hingga jaringan listrik benar-benar tersambung dan dirasakan masyarakat.
“Terima kasih kepada Pak Eko Sutrisno yang sudah berjibaku untuk menyukseskan penerangan bagi delapan desa yang terisolir di Kampar Kiri Hulu. Sekali lagi, terima kasih,” ujar Dedi.
Pembukaan jalur tersebut sekaligus menunjukkan bahwa persoalan keterisolasian tidak selalu selesai hanya dengan kebijakan dari atas. Di lapangan, persoalan lahan, komunikasi dengan masyarakat, hingga koordinasi antarpihak menjadi bagian yang harus diselesaikan satu per satu.
Bagi warga delapan desa di aliran Sungai Subayang, progres eksekusi lahan ini menjadi salah satu tahapan yang membuka harapan bahwa penantian terhadap akses listrik dapat segera berujung pada penerangan yang benar-benar hadir di rumah-rumah mereka.(FLS)







