KAMPAR – Ketua Forum Pemuda Ocu Kampar (FPOK) Rudi Ardilis mendesak Pemerintah Kabupaten Kampar untuk segera membangun rumah singgah bagi penderita kanker yang membutuhkan penginapan di Kota Pekanbaru.
“Kami sangat prihatin melihat tidak adanya rumah singgah untuk warga Kampar yang berobat di Pekanbaru. Pantauan kami, banyak warga Kampar berasal dari keluarga menengah kebawah harus tidur di lorong-lorong rumah sakit, hal ini sangat memprihatinkan sekali,” lugas Rudi.
Menurut pemuda asal Salo ini, dari 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau, hanya Kabupaten Kampar saja yang tidak memiliki rumah singgah bagi penderita kanker. Hal ini tentu sangat miris sekali, dimana daerah yang memiliki APBD sebesar 3 triliun berbanding terbalik dengan fasilitas kesehatan bagi masyarakat.
“Tengok Dumai, punya rumah singgah di Jalan Rambutan Pekanbaru dengan fasilitas seperti hotel. Juga di sediakan mobil antar jemput dari kota Dumai ke Pekanbaru sampai kerumah singgah bahkan diantarkan ke rumah sakit, begitu pun sebaliknya jika masyarakat ingin balik kerumahnya,” tegasnya.
“Seharusnya dengan APBD yang Lebih dari 3 T pertahun. Pemerintah hadir untuk menyediakan rumah singgah,” imbuhnya dengan geram.
Di Provinsi Riau, Kampar menjadi salah satu penyumbang pasien kanker terbanyak. Terlepas dari banyak warga Kampar yang berobat di Pekanbaru, terutama di rumah sakit pusat rujukan Provinsi Riau yaitu RSUD Arifin Achmad, sudah semestinya Kampar memiliki rumah singgah untuk pasien yang berobat di Pekanbaru. Terutama Pasien yang mengidap penyakit kanker.
Sementara itu, SA (62) salah seorang pasien pengidap kanker menceritakan kisahnya yang sehari-hari harus berobat ke RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, menginap di lorong-lorong rumah sakit. Hal ini terjadi dikarenakan ia tidak memiliki biaya yang cukup untuk menginap ditempat yang layak.
“Kami memang hampir setiap hari di RSUD Arifin Achmad, memang pengobatannya setelah di kemoterapi harus disinar radioterapi. Selama 25 kali setiap hari, karena ketidakmampuan biaya kami memilih tidur di lorong-lorong RSUD bersama anak yang menunggu kami,” ungkapnya.
“Kalau menyewa penginapan, kami tidak ada biaya, jangan kan untuk menyewa rumah untuk makan saja kadang kami dari belas kasihan orang pak. Memang rata-rata yang tidur di sini kebanyakan adalah warga Kampar Pak, karena daerah lain, katanya punya rumah singgah,” tambah SA dengan getir.(***)







