KAMPAR, Voiceriau.com – Pemerintah Kabupaten Kampar mulai mengambil langkah strategis untuk memastikan pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan berjalan lebih terarah dan mendapatkan dukungan pusat.
Pada Sabtu (29/11/2025), Bupati Kampar meninjau kondisi jembatan penghubung antara Desa Tanjung Belit dan Desa Balung, Kecamatan XIII Koto Kampar, satu-satunya akses darat yang selama ini menjadi nadi mobilitas warga di dua desa tersebut.
Jembatan itu sudah lama menjadi perhatian masyarakat. Usianya menua, konstruksinya tidak lagi sepenuhnya ideal untuk menampung beban dan intensitas aktivitas harian, terutama ketika arus ekonomi dan pariwisata kawasan XIII Koto Kampar terus meningkat.
Bagi warga Balung, jembatan tersebut bukan sekadar akses, tetapi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, dari distribusi hasil pertanian hingga jalur anak sekolah menuju desa tetangga.
Peninjauan ini menjadi pintu masuk penyusunan proposal bersama antara Pemerintah Kabupaten Kampar dan Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota.
Kerja sama lintas daerah itu akan diajukan ke pemerintah pusat melalui skema pendanaan APBN. Menurut pemerintah daerah, sinergi ini diperlukan mengingat fungsi jembatan yang menghubungkan dua kabupaten sekaligus.
Bupati menegaskan bahwa pembangunan jembatan baru bukan sekadar proyek fisik, tetapi bagian dari rencana jangka panjang penguatan konektivitas kawasan perbatasan.
Infrastruktur yang lebih kokoh diharapkan mampu memberi dampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, memperlancar transportasi harian, serta membuka potensi pengembangan wilayah yang selama ini terkendala minimnya akses.
Dalam kunjungannya, Bupati Kampar Ahmad Yuzar menyampaikan bahwa kebutuhan pembangunan jembatan ini sudah sangat mendesak. Kondisi konstruksi eksisting dinilai tidak lagi memadai untuk menahan beban kendaraan yang semakin beragam.
“Pembangunan jembatan ini menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat Desa Balung. Tentunya dengan sinergi antardaerah, kita berharap pemerintah pusat dapat memberikan dukungan penuh melalui APBN,” ujar Ahmad Yuzar.
Pemerintah Kabupaten Kampar meyakini bahwa usulan pembangunan jembatan pengganti akan mendapatkan perhatian jika argumentasi teknis, manfaat ekonomi, serta urgensinya tersusun kuat dalam proposal.
Selain itu, keberadaan dua pemerintah daerah yang mengajukan bersama dinilai menjadi nilai tambah yang memperkuat aspek kebutuhan regional.
Secara geografis, wilayah Desa Tanjung Belit dan Desa Balung memiliki potensi strategis, termasuk pariwisata alam, pertanian, serta akses menuju Kabupaten Lima Puluh Kota. Namun, keterbatasan infrastruktur membuat banyak peluang tidak tertangkap optimal.
Pembangunan jembatan baru diharapkan menjadi pemicu pertumbuhan. Arus wisatawan menuju objek wisata Tanjung Belit dan kawasan sekitar bisa meningkat, sementara pelaku usaha kecil dapat memperluas jangkauan distribusi produk mereka.
Bagi masyarakat, jembatan baru akan menjadi jaminan keselamatan, efisiensi perjalanan, dan akses layanan publik yang lebih baik, mulai dari kesehatan hingga pendidikan.
Meski proses masih dalam tahap awal, pemerintah daerah berharap penyusunan proposal tidak memakan waktu lama. Setelah itu, langkah selanjutnya adalah sinkronisasi data teknis, survei kelayakan, serta finalisasi berkas usulan untuk diajukan ke kementerian terkait.
Bagi masyarakat di dua desa tersebut, pembangunan jembatan baru bukan hanya proyek pembangunan, tetapi simbol harapan agar wilayah perbatasan tidak lagi tertinggal. Pemerintah daerah kini menempatkan kebutuhan itu sebagai prioritas, menunggu dukungan pusat agar rencana tersebut bisa segera diwujudkan.(ADV)







