KAMPAR – Ketua DPD II Golkar Kabupaten Kampar, Repol, turut ambil bagian dalam lomba pacu sampan tutup mata yang digelar di tepian Sungai Kampar, Desa Batu Belah, Sabtu (14/2/2026). Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 14–15 Februari 2026, itu menjadi ajang silaturahmi masyarakat sekaligus tradisi tahunan menjelang bulan Ramadhan.
Berbaur bersama warga, Repol yang juga mantan anggota DPRD Kabupaten Kampar empat periode itu tampak menikmati setiap momen perlombaan. Meski tidak berhasil meraih juara, ia mengaku keikutsertaannya lebih sebagai bentuk kebersamaan dengan masyarakat.
“Acara seperti ini harus terus ditingkatkan. Lomba ini bukan sekadar adu cepat, tetapi juga menguji pikiran dan tenaga. Dalam kondisi mata ditutup lakban, sangat sulit bagi peserta untuk mencapai garis finis,” ujar Repol di sela kegiatan.
Bagi Repol, kegiatan semacam ini memiliki makna lebih dalam dibandingkan kompetisi semata. Ia menilai, di tengah arus modernisasi dan berkurangnya ruang interaksi sosial langsung, tradisi rakyat seperti pacu sampan tutup mata menjadi medium efektif untuk memperkuat kohesi sosial.
“Yang terpenting bukan menang atau kalah. Kebersamaan dan kegembiraan masyarakat itulah nilai utamanya,” ujarnya.
Di tepian Sungai Kampar, sore itu, suara tawa dan sorak-sorai menjadi penanda bahwa tradisi masih menemukan tempatnya. Lomba sederhana dengan mata tertutup justru membuka ruang yang lebih luas, ruang kebersamaan, solidaritas, dan identitas warga Desa Batu Belah.
Pacu sampan tutup mata merupakan variasi unik dari tradisi pacu sampan yang telah lama dikenal masyarakat tepian Sungai Kampar.
Bedanya, dalam lomba ini setiap sampan diisi dua orang peserta yang matanya ditutup lakban oleh panitia. Mereka harus mendayung sejauh kurang lebih 150 meter dari seberang Kampung Muara Jalai menuju titik finis di Desa Batu Belah.

Kondisi tanpa penglihatan membuat peserta kerap saling bertabrakan di tengah sungai. Justru di situlah letak daya tariknya. Gelak tawa warga pecah setiap kali sampan berputar arah atau hampir menabrak perahu lain. Hiburan spontan ini menjadi pelepas penat bagi masyarakat.
Firdaus S.H.I, pemuda tepian Sungai Kampar Desa Batu Belah, mengatakan kegiatan tersebut rutin dilaksanakan setiap tahun menjelang Ramadhan dan selepas Idul Fitri.
“Ini sudah menjadi tradisi tahunan. Selain menyambut bulan suci, juga untuk mempererat silaturahmi antarwarga,” kata Firdaus.
Menurutnya, masyarakat yang bermukim di sepanjang tepian sungai selalu menantikan momentum tersebut. Bagi mereka, sungai bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang sosial tempat interaksi dan identitas bersama tumbuh.
Tahun ini, lomba diikuti sekitar 48 peserta. Setiap sampan diisi dua orang, sehingga total 24 perahu memeriahkan perlombaan. Panitia menetapkan biaya pendaftaran sebesar Rp 10.000 per peserta, menjadikannya kegiatan yang terjangkau dan inklusif.
Demi keselamatan, panitia mewajibkan seluruh peserta mengenakan pelampung. Langkah ini penting mengingat kondisi peserta yang tidak dapat melihat arah laju perahu.
Hadiah yang disediakan pun cukup menarik untuk ukuran lomba rakyat. Juara pertama mendapatkan Rp 800.000, juara kedua Rp 700.000, dan juara ketiga Rp 500.000. Selain itu, terdapat hadiah harapan I sebesar Rp 300.000, harapan II Rp 200.000, dan harapan III Rp 150.000.(FLS)







