JAKARTA, Voiceriau.com – Perayaan puncak HUT ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional (HGN) 2025 di Britama Arena, Mahaka Square, Jakarta, Sabtu (29/11/2025), menjadi ruang pertemuan besar para pendidik dari seluruh Indonesia.
Di tengah gegap gempita peringatan nasional itu, hadir Wakil Bupati Kampar sekaligus Ketua PGRI Kabupaten Kampar, Dr. Hj. Misharti, S.Ag., M.Si, membawa suara dan harapan guru-guru dari daerah.
Peringatan tahun ini bukan sekadar seremoni. Bagi banyak peserta, termasuk Misharti, usia ke-80 PGRI adalah penanda matang sebuah organisasi yang selama delapan dekade menjadi wadah perjuangan pendidik.
“PGRI adalah rumah besar bagi para pendidik. Di usia 80 tahun ini, kita harus semakin solid, inovatif, dan adaptif,” ujar Misharti dalam kesempatan tersebut.
Ia menekankan bahwa perubahan pesat ekosistem pendidikan, mulai dari teknologi digital hingga tuntutan kompetensi abad 21, membutuhkan kesiapan guru sebagai agen perubahan.
Di mata Misharti, guru tidak lagi cukup sebagai pengajar di kelas. Mereka adalah pembentuk nilai, mediator perkembangan zaman, hingga penjaga moral generasi muda.
Sebagai Ketua PGRI Kabupaten Kampar, Misharti memandang penyelenggaraan HUT PGRI bukan hanya ajang apresiasi, tetapi forum konsolidasi. Ia menyebut PGRI Kampar berkomitmen memperkuat kapasitas guru melalui pelatihan berkelanjutan serta perluasan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
“Kompetensi guru akan menjadi kunci kualitas pendidikan daerah. Kami terus mendorong program peningkatan kompetensi agar guru Kampar mampu mengikuti perkembangan zaman,” ucapnya.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Dr. Fajar Riza Ulhaq, M.Si, yang turut hadir, membawa pesan jelas dari pemerintah pusat: peningkatan mutu pendidikan tidak bisa dipisahkan dari penguatan profesi guru.
“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang nyata. Pemerintah akan terus mendukung peningkatan kesejahteraan dan kompetensi guru,” kata Fajar. Ia menilai sinergi antara pemerintah dan PGRI menjadi kunci tercapainya kualitas sumber daya manusia yang unggul.
Fajar juga mengapresiasi komitmen PGRI daerah, seperti Kampar, yang dinilai aktif mendorong inovasi pembelajaran dan penguatan kapasitas pendidik.
Rangkaian acara ditutup dengan penampilan seni budaya dan pemberian penghargaan kepada guru-guru berprestasi dari berbagai daerah. Momen itu menampilkan tidak hanya kreativitas guru, tetapi juga identitas kultural yang selama ini menjadi bagian dari tugas pendidik, merawat keberagaman dan merajut persatuan.
Bagi para peserta, peringatan ini menjadi ruang jeda untuk melihat kembali makna pengabdian. Guru tidak hanya mengajarkan rumus dan teori, tetapi ikut membangun fondasi moral, sosial, dan intelektual bangsa.
Di tengah transformasi digital dan perubahan sosial yang kian cepat, pesan utama dari panggung peringatan HUT ke-80 PGRI tahun ini terasa jelas: guru harus tetap menjadi kompas yang menuntun arah pendidikan nasional.(ADV)







