Mengetahui Sebelum Kehilangan
Iben Nuriska
Saya naik ojek online ketika Pekanbaru diselimuti kabut asap. Di tengah perjalanan, pengemudinya mengeluh tentang pesanan yang sepi saat sekolah diliburkan. Beberapa kawannya memilih pulang setelah cukup lama menunggu di pangkalan tanpa mendapatkan order. Mereka sudah keluar rumah untuk bekerja, tetapi hari itu tidak banyak yang bisa dikerjakan.
Sekolah diliburkan karena asap. Bagi pengemudi itu, akibatnya terasa pada berkurangnya penumpang. Keluhannya membuat saya memikirkan sesuatu yang sebelumnya luput dari perhatian. Selama ini, sekolah yang diliburkan lebih mudah saya pahami sebagai terganggunya kegiatan belajar. Di atas ojek itu, saya mendengar akibat lainnya. Ada orang yang ikut kehilangan penghasilan ketika anak-anak tidak berangkat sekolah.
Lalu bagaimana dengan kantin? Bagaimana dengan orang yang memasok makanan dan pengemudi antar-jemput? Saya tidak mengetahui keadaan mereka hari itu. Namun, membayangkan sekolah tanpa murid juga berarti membayangkan orang-orang yang biasanya memperoleh penghasilan dari kesibukan di sekitarnya. Kehidupan sebuah sekolah ternyata berlangsung lebih jauh daripada ruang kelas dan halaman tempat anak-anak bermain.
Keluhan pengemudi tadi tentu tidak berarti anak-anak harus tetap berangkat sekolah di tengah asap. Keselamatan mereka bukan sesuatu yang pantas ditawar demi mempertahankan pesanan ojek. Justru ada dua kebutuhan yang terganggu bersamaan. Anak membutuhkan udara yang aman untuk belajar, sementara orang dewasa membutuhkan kesempatan mencari nafkah. Asap membuat keduanya kesulitan menjalani hari yang semestinya biasa saja.
Kesulitan itu menjadi lebih getir ketika pembakaran hutan dan lahan dilakukan untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Ada yang membuka lahan dengan biaya lebih murah, tetapi ada pula yang kehilangan penghasilan karena asapnya. Orang-orang yang menanggung kehilangan tersebut tidak ikut memilih cara pembukaan lahan dan tidak menerima bagian dari hasilnya.
Hubungan antara kebakaran dan keuntungan ekonomi pernah diuraikan Herry Purnomo bersama rekan-rekannya dalam penelitian yang terbit di Forest Policy and Economics pada 2017. Kajian di empat kabupaten di Riau itu menemukan sejumlah pihak yang terlibat dan memperoleh manfaat ekonomi dari kebakaran dalam proses perubahan hutan menjadi perkebunan sawit. Temuan tersebut tentu tidak menunjukkan siapa yang menyebabkan asap saat ini. Namun, penelitian itu memperlihatkan bahwa pembakaran lahan juga berlangsung dalam hubungan kepentingan dan keuntungan.
Ketika biaya pembukaan lahan dihitung hanya dari pengeluaran pihak yang membuka kebun, membakar mungkin terlihat murah. Perhitungannya berbeda apabila penghasilan warga yang hilang karena asap ikut dimasukkan. Sebagian biaya yang seolah berhasil dihemat ternyata ditanggung oleh orang lain, di tempat lain, dalam bentuk kesulitan yang tidak tercantum dalam perhitungan usaha tersebut.
Karena itu, persoalan ini terasa terlalu sempit apabila disebut sebagai pertentangan antara ekonomi dan lingkungan. Pengemudi ojek juga sedang menjalankan kegiatan ekonomi. Begitu pula penjual makanan di kantin dan orang yang memasok dagangannya. Mereka bukan orang-orang yang berada di luar pembicaraan tentang pembangunan dan kesejahteraan. Penghasilan mereka sama nyatanya dengan keuntungan dari sebidang kebun, meskipun jumlahnya mungkin jauh lebih kecil.
Ada perbedaan yang penting di sini. Orang yang memperoleh keuntungan dari pembakaran mempunyai kepentingan atas lahan yang dibuka. Sementara itu, orang yang kehilangan penghasilan karena asap belum tentu mempunyai hubungan apa pun dengan lahan tersebut. Mereka bahkan mungkin tidak pernah bertemu. Namun, keputusan di satu tempat ikut menentukan apakah seseorang di tempat lain masih memperoleh pekerjaan hari itu.
Dalam The Public and Its Problems, John Dewey menjelaskan bahwa suatu tindakan menjadi urusan bersama ketika akibatnya menjangkau orang-orang yang tidak terlibat langsung dan cukup besar untuk memerlukan penanganan bersama. Kepentingan publik tidak hanya menyangkut orang yang mengambil keputusan, tetapi juga mereka yang harus menjalani akibatnya.
Batas sebidang lahan, dengan demikian, bukan batas orang-orang yang akan menanggung asapnya. Pengemudi tadi mungkin tidak mengetahui dari mana api bermula. Yang diketahuinya adalah sekolah diliburkan dan pesanan ojek berkurang. Pengetahuannya tentang kebakaran tidak datang dari lokasi api, melainkan dari pekerjaan yang sehari-hari dijalankannya. Di situlah persoalan yang tampak jauh berubah menjadi urusan rumah tangga.
Saya tidak mempunyai angka tentang berapa banyak pengemudi yang mengalami hal serupa. Tidak pula tentang jumlah penghasilan yang hilang selama sekolah diliburkan. Satu percakapan memang tidak menggambarkan seluruh keadaan Pekanbaru. Tetapi percakapan itu menyisakan keinginan untuk mengetahui lebih banyak. Berapa banyak kehilangan yang tidak terlihat ketika perhatian kita hanya tertuju pada lahan yang terbakar?
Persoalan pendidikan dan ekonomi juga disebut Herry Heryawan ketika membicarakan kebakaran hutan dan lahan di Universitas Riau, Pekanbaru, pada 18 September 2026. Dalam peresmian Pusat Studi Kepolisian Bidang Lingkungan itu, Kapolda Riau itu menjelaskan bahwa akibat kebakaran melampaui kerusakan ekosistem dan menyangkut kesehatan, pendidikan, kegiatan ekonomi, serta kehidupan sosial.
Herry Heryawan mengharapkan pusat studi tersebut menghasilkan data yang menjadi dasar penelitian. “Data menjadi dasar penelitian, penelitian melahirkan pengetahuan,” ujarnya. Pengetahuan itu kemudian menjadi pijakan dalam merumuskan kebijakan dan memperkuat tindakan kepolisian.
Data, dalam pembicaraan ini, mempunyai hubungan dengan orang-orang yang sedang berusaha menjalani hidupnya. Luas lahan yang terbakar menjelaskan besarnya kerusakan di lokasi api. Berkurangnya penghasilan pengemudi menjelaskan akibat yang berlangsung di jalanan kota. Keduanya memperlihatkan bagian yang berbeda dari peristiwa yang sama. Saya berharap pengetahuan yang tumbuh melalui pusat studi itu menjangkau kehidupan warga sampai sejauh itu.
Penekanan Herry Heryawan pada pengetahuan sebagai dasar tindakan berdekatan dengan pemikiran Hans Jonas tentang tanggung jawab. Dalam Technology and Responsibility, Jonas menjelaskan bahwa kemampuan manusia mengubah alam telah memperluas akibat tindakannya, melampaui tempat kejadian dan masa hidup orang yang mengambil keputusan. Karena itu, mencari tahu akibat tindakan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia, bukan pekerjaan tambahan setelah keputusan dijalankan.
Dalam pembukaan lahan, misalnya, mengetahui cara memperoleh hasil belum sama dengan memahami akibatnya bagi kehidupan di luar kebun. Perhitungan keuntungan menjelaskan apa yang diharapkan oleh pemilik usaha. Pengetahuan tentang lingkungan memperluas perhatian kepada orang yang tidak mempunyai kepentingan dalam usaha itu, tetapi mungkin harus menanggung kerugiannya. Dari sudut pandang Jonas, usaha untuk memahami akibat tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sebelum lahan dibuka.
Mengetahui kerugian setelah asap datang tentu berbeda dari mengenali bahaya sebelum pembakaran terjadi. Yang pertama membantu menjelaskan kehilangan. Yang kedua memberi kesempatan untuk mencegahnya. Bagi pengemudi yang hidup dari pesanan harian, perbedaan itu bukan urusan istilah. Ada hari kerja yang masih bisa dijalani, ada penghasilan yang belum telanjur hilang.
Hubungan antara data dan tindakan yang disampaikan Herry Heryawan membawa harapan ke arah tersebut. Pengetahuan tentang lingkungan bukan hanya pengetahuan mengenai apa yang sudah rusak. Ada harapan untuk mengenali ancaman lebih awal, sebelum anak-anak harus tinggal di rumah dan orang-orang yang bergantung pada kegiatan sekolah kehilangan sebagian pekerjaannya.
Namun, penghasilan yang berkurang bukan satu-satunya kehilangan. Anak yang tidak berangkat sekolah juga kehilangan bagian dari kesehariannya bersama guru dan teman-teman. Orang tua menghadapi kekhawatiran yang tidak selesai hanya dengan mengetahui jumlah kerugian ekonomi. Menyebut penghasilan pengemudi ojek tidak dimaksudkan untuk memberi harga pada seluruh akibat asap. Ceritanya justru memperluas pengertian tentang kerusakan, dari keadaan alam menuju kehidupan yang bergantung padanya.
Herry Heryawan juga menyampaikan bahwa pembangunan tetap berlangsung untuk kesejahteraan masyarakat tanpa mengorbankan masa depan bersama. Masa depan itu terdengar jauh apabila hanya dibicarakan sebagai kehidupan generasi yang belum lahir. Tetapi bagi orang yang mencari nafkah dari hari ke hari, masa depan juga berarti besok pagi. Masih ada kebutuhan yang harus dipenuhi untuk kembali bekerja dan membawa pulang penghasilan.
Anak-anak yang kelak mewarisi Riau adalah anak-anak yang sekarang membutuhkan udara bersih untuk bersekolah. Kehidupan mereka pada masa dewasa tumbuh dari hari-hari yang sedang dijalani, termasuk dari kemampuan orang tua memenuhi kebutuhan keluarga. Menjaga masa depan tidak terpisah dari menjaga kesempatan hidup hari ini.
Karena itu, saya membayangkan Riau tanpa kerusakan alam melalui hal-hal yang dekat. Sekolah tetap berkegiatan. Orang yang berjualan tetap mempunyai kesempatan memperoleh pembeli. Pengemudi berangkat dengan harapan mendapatkan penumpang, tanpa harus kehilangan hari kerja karena asap. Sungai dan hutan tetap menjadi bagian dari kehidupan, bukan sekadar nama tempat yang kelak dijelaskan kepada anak-anak melalui cerita.
Tidak semua persoalan penghasilan akan selesai ketika lingkungan terjaga. Pesanan tukang ojek bisa sepi karena banyak sebab. Tetapi kehilangan pekerjaan karena asap yang tidak dibuat sendiri merupakan kesulitan lain, yang datang di luar usaha seseorang untuk memperbaiki hidupnya. Sudah keluar rumah dan bersedia bekerja pun belum cukup ketika lingkungan tidak lagi memungkinkan pekerjaan berlangsung seperti biasa.
Pusat studi lingkungan berada dekat dengan persoalan itu, meskipun pekerjaan sehari-harinya berlangsung jauh dari pangkalan ojek. Pengetahuan yang dihimpun tentang Riau menyangkut tanah, hutan, sungai, dan juga orang-orang yang hidup di antaranya. Ada harapan agar keputusan tentang alam tidak hanya memperhitungkan hasil yang akan diperoleh, tetapi juga kehidupan yang mungkin terganggu.
Di pangkalan yang diceritakan pengemudi tadi, tidak ada kendaraan yang terbakar. Tidak ada barang dagangan yang menjadi abu. Beberapa orang hanya duduk menunggu, lalu memilih pulang karena pesanan tidak masuk. Kehilangan mereka tidak meninggalkan bekas kebakaran, tetapi tetap terasa ketika hari berakhir.
Itulah yang paling membekas dari perjalanan singkat tersebut. Asap tidak hanya menutupi kota. Dalam cerita pengemudi itu, asap telah mengurangi kesempatan orang untuk membawa pulang penghasilan. Memahami kehilangan semacam ini membuat penguatan data mempunyai urusan yang sangat manusiawi — mengetahui siapa yang ikut menanggung akibat, sebelum lebih banyak orang mengalami kesulitan yang sama.
Sebab, bagi orang yang hidup dari penghasilan harian, udara yang kembali bersih belum tentu mengembalikan penghasilan yang sudah hilang.







