KAMPAR, – Gelak tawa warga pecah di tepian Sungai Kampar, Desa Batu Belah, Kecamatan Kampar, Ahad (15/2/2026). Pacu sampan tutup mata yang digagas pemuda desa setempat resmi berakhir setelah dua hari pelaksanaan, 14–15 Februari 2026.
Di balik perlombaan yang tampak sederhana itu, tersimpan semangat kebersamaan yang kental menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.
Sejak hari pertama, warga memadati bantaran sungai. Mereka menyaksikan para peserta mendayung perahu dengan mata tertutup lakban, mengandalkan kekompakan dan insting untuk mencapai garis akhir.
Tak jarang perahu berputar arah atau saling bersenggolan, memancing sorak-sorai dan tawa penonton.
Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Kampar, Repol, turut ambil bagian dalam perlombaan tersebut. Berpasangan dengan Zul, ia berhasil meraih juara ketiga.
Bagi Repol, capaian itu bukan sekadar soal posisi di podium. Ia mengaku bangga dapat berbaur langsung dengan masyarakat dalam suasana penuh suka cita.
“Benar-benar menyenangkan dan penuh kebersamaan. Mudah-mudahan tahun depan acara seperti ini bisa lebih meriah dan ditingkatkan lagi,” ujarnya.
Pada penutupan acara, Repol juga didapuk oleh panitia dan masyarakat untuk menyerahkan hadiah kepada juara pertama pacu sampan tutup mata.
Penyerahan hadiah itu disambut tepuk tangan meriah warga yang memadati tepian sungai. Momen tersebut menjadi simbol kebersamaan antara tokoh masyarakat dan warga dalam mendukung kegiatan positif di desa.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pemuda Desa Batu Belah yang dinilainya konsisten menghadirkan kegiatan positif bagi masyarakat.
Menurutnya, ruang-ruang interaksi sosial seperti ini penting untuk menjaga kekompakan warga sekaligus menguatkan identitas desa.
Firdaus, pemuda tepian Sungai Kampar Desa Batu Belah, mengatakan kegiatan pacu sampan tutup mata telah menjadi agenda rutin menjelang Ramadhan. Selain sebagai hiburan rakyat, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk mempererat silaturahmi antarwarga.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Repol yang sudah ikut meramaikan perlombaan. Kehadiran beliau menjadi semangat tersendiri bagi peserta dan masyarakat,” kata Firdaus.
Menurut dia, keterlibatan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pemuda, tokoh desa, hingga warga lintas usia, menjadi kekuatan utama kegiatan tersebut.
Sungai Kampar yang selama ini menjadi nadi kehidupan warga, kembali berfungsi sebagai ruang bersama tempat nilai gotong royong dan solidaritas dirawat.
Di tengah perubahan sosial dan derasnya arus digitalisasi, tradisi rakyat seperti pacu sampan tutup mata menghadirkan alternatif ruang temu yang nyata. Tidak ada sekat sosial saat peserta mendayung dengan mata tertutup; yang ada hanya kerja sama, tawa, dan semangat saling menyemangati.
Bagi masyarakat Batu Belah, dua hari perlombaan itu bukan sekadar kompetisi. Ia menjadi penanda kesiapan menyambut Ramadhan dengan hati yang lapang dan hubungan sosial yang semakin erat.
Di tepian Sungai Kampar, perlombaan memang telah usai. Namun semangat kebersamaan yang mengalir bersamanya diharapkan terus terjaga, bahkan setelah gema sorak-sorai mereda.(FLS)







