KAMPAR UTARA – Suasana hangat menyelimuti Dusun Padang Tarap, Desa Muara Jalai, Senin (23/3), ketika ratusan warga Pasukuan Mandeliong, baik yang bermukim di kampung maupun pulang dari perantauan, berkumpul dalam acara Halal Bihalal bertema “Dunsanak Kami Daghi Ghantau”.
Kehadiran Bupati Kampar, Ahmad Yuzar, menambah makna acara yang digelar di Musholla Darussalam tersebut, sekaligus menjadi momentum memperkuat ikatan kekerabatan dalam komunitas adat setempat.
Acara Halal Bihalal ini menjadi wadah penting bagi masyarakat Pasukuan Mandeliong untuk mempererat hubungan kekeluargaan pasca Idul Fitri, terutama antara warga yang lama berada di rantau dengan keluarga yang tinggal di kampung halaman. Sejak pagi, tokoh adat, ninik mamak, dan masyarakat tampak memenuhi halaman musholla, menyambut rombongan Bupati Kampar dengan penuh antusias.
Dalam sambutannya, Ahmad Yuzar menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut sebagai bentuk pelestarian nilai adat dan budaya di tengah dinamika masyarakat modern. Menurutnya, kegiatan Halal Bihalal bukan sekadar tradisi, tetapi juga ruang penting bagi masyarakat adat untuk memperkuat jati diri serta mengokohkan hubungan emosional antarsesama.
“Melalui kegiatan seperti ini, kita tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga memperkokoh identitas budaya dan rasa kebersamaan sebagai satu kaum,” ujar Yuzar. Ia menambahkan, ikatan masyarakat rantau dan kampung harus terus dipelihara, karena peran perantau selama ini turut memberi kontribusi signifikan bagi pembangunan di Kabupaten Kampar.
Bupati juga menegaskan pentingnya kebersamaan dan sinergi masyarakat dalam mendorong kemajuan daerah. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi pemicu untuk semakin menguatkan partisipasi masyarakat, baik yang berada di kampung maupun perantauan, dalam mendukung program pembangunan yang sedang dijalankan pemerintah.
Rangkaian acara Halal Bihalal Pasukuan Mandeliong diisi dengan doa bersama, penyampaian wejangan dari tokoh adat, dan penyerahan bantuan kepada anak yatim piatu sebagai wujud kepedulian sosial. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Gelak tawa, obrolan hangat, dan pertemuan antar “dunsanak” yang lama tak berjumpa mewarnai jalannya acara hingga sore hari.
Bagi masyarakat Pasukuan Mandeliong, kegiatan ini bukan hanya seremoni tahunan, tetapi simbol kuatnya hubungan antara warga yang tinggal di kampung dengan para perantau yang kembali sejenak untuk menyambung silaturahmi. Melalui agenda seperti ini, hubungan kekeluargaan diharapkan semakin erat dan mampu memperkuat harmoni sosial di tengah masyarakat.
Dengan berakhirnya kegiatan, masyarakat Pulang Tarap tampak kembali ke rumah masing-masing dengan raut bahagia. Halal Bihalal ini diyakini menjadi pengingat bahwa meski jarak memisahkan, ikatan adat dan persaudaraan tetap menjadi fondasi utama kehidupan masyarakat Pasukuan Mandeliong.(ADV)







