JAKARTA – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) di panggung internasional. Mayor Inf Dr. Zulfikar Rakita Dewa, S.E., S.Hub.Int., M.I.Pol., M.H., M.M., MOS, berhasil menuntaskan pendidikan di US Army Command and General Staff College (CGSC), Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat, pada Tahun Akademik 2025–2026. Dalam pendidikan bergengsi tersebut, ia juga meraih gelar Master of Operational Studies (MOS), yang menjadi gelar magister keempat dalam perjalanan akademiknya.
Pencapaian ini menegaskan kapasitas Mayor Zulfikar sebagai salah satu perwira TNI dengan rekam jejak akademik yang menonjol. Di tengah tuntutan dinamika pertahanan global yang semakin kompleks, keberhasilannya mencerminkan perpaduan antara kecakapan militer, kedalaman intelektual, dan kepemimpinan strategis.
Mayor Zulfikar merupakan satu dari tiga perwira Indonesia yang berhasil menyelesaikan pendidikan di CGSC tahun ini. Keberhasilan tersebut menjadi bagian penting dari upaya penguatan kualitas sumber daya manusia pertahanan Indonesia sekaligus memperluas jejaring kerja sama strategis dengan komunitas militer internasional.
CGSC sendiri dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan militer paling prestisius di dunia. Kampus yang berlokasi di Fort Leavenworth, Kansas, ini telah lama menjadi tempat penggemblengan para pemimpin militer dan perencana strategis dari berbagai negara. Sejumlah tokoh besar Indonesia juga pernah menempuh pendidikan di sana, di antaranya Ahmad Yani dan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono.
Pada Tahun Akademik 2025–2026, CGSC meluluskan 951 peserta, termasuk 120 International Military Students dari 92 negara. Lingkungan akademik yang kompetitif dan multinasional tersebut menjadikan CGSC sebagai arena pembelajaran strategis yang sangat menantang.
Bagi Mayor Zulfikar, pendidikan di CGSC bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan ruang untuk memperluas perspektif tentang kepemimpinan, perencanaan operasional, dan pengambilan keputusan di level strategis.
Selama mengikuti program, para peserta tidak hanya mempelajari operasi militer modern, tetapi juga berdiskusi, bertukar gagasan, dan membangun jejaring profesional dengan perwira dari berbagai kawasan dunia.
Menurut Mayor Zulfikar, interaksi dalam lingkungan multinasional memberikan pemahaman yang lebih luas tentang dinamika keamanan global dan pentingnya kolaborasi antarnegara dalam menghadapi tantangan strategis kontemporer.
Yang membuat sosok Mayor Zulfikar semakin menarik adalah latar belakang keluarganya. Ia merupakan putra dari aktor dan sutradara ternama Indonesia, Deddy Mizwar, figur publik yang dikenal luas melalui berbagai karya legendaris di dunia perfilman dan televisi nasional. Nama Deddy Mizwar telah lama identik dengan sosok seniman yang intelektual, berkarakter kuat, dan memiliki kontribusi besar dalam industri kreatif Indonesia.
Namun, alih-alih mengikuti jejak sang ayah di dunia hiburan, Zulfikar memilih jalur pengabdian yang berbeda. Ia menapaki jalan sebagai prajurit, membangun karier di lingkungan militer dengan disiplin, dedikasi, dan prestasi yang konsisten.
Pilihan tersebut menunjukkan bahwa meski lahir dari keluarga publik figur, Mayor Zulfikar membangun identitasnya sendiri melalui kerja keras dan capaian personal di bidang pertahanan.
Pengalaman lapangan menjadi salah satu fondasi penting yang membentuk kepemimpinannya. Dalam perjalanan karier militernya, Mayor Zulfikar pernah mengemban amanah sebagai Wakil Komandan Batalyon Infanteri 132/Bima Sakti, satuan tempur strategis TNI AD yang bermarkas di Desa Salo, Kecamatan Salo, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.
Penugasan tersebut memberinya pengalaman langsung dalam memimpin prajurit, mengelola organisasi militer, serta memastikan kesiapsiagaan satuan dalam berbagai tugas operasional.
Bertugas di Bumi Lancang Kuning memberi warna tersendiri dalam perjalanan kariernya. Di satuan yang dikenal memiliki sejarah panjang dan tradisi tempur kuat itu, Mayor Zulfikar ditempa tidak hanya dalam aspek taktis dan operasional, tetapi juga dalam membangun karakter kepemimpinan yang dekat dengan prajurit serta adaptif terhadap dinamika wilayah.
Pengalaman sebagai Wakil Komandan Yonif 132/Bima Sakti juga memperkaya perspektifnya mengenai pentingnya sinergi antara kepemimpinan lapangan dan perencanaan strategis. Pengalaman tersebut kini menjadi modal berharga yang melengkapi capaian akademiknya, termasuk pendidikan di CGSC.
Jejak intelektual yang kuat tampaknya juga menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidupnya. Mayor Zulfikar dikenal sebagai perwira dengan semangat belajar yang tinggi.
Empat gelar magister yang dimilikinya mencakup bidang ekonomi, manajemen, hubungan internasional, ilmu politik, hukum, hingga kajian strategis militer sebuah kombinasi multidisipliner yang memperkaya sudut pandangnya dalam membaca persoalan pertahanan dan tata kelola pemerintahan.
Tak berhenti di sana, lulusan Akademi Militer tahun 2009 ini juga meraih gelar doktor dari Universitas Padjadjaran dengan Indeks Prestasi Kumulatif sempurna, yakni 4,0. Ia menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Program Studi Ilmu Administrasi dengan peminatan Ilmu Pemerintahan.
Disertasi doktoralnya berjudul “Tata Kelola Pemerintahan Dinamis Provinsi Jawa Barat Pasca Pemilihan Presiden 2019 dalam Penyelenggaraan Ketenteraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat Jawa Barat.”
Kajian itu memperlihatkan ketertarikannya yang mendalam pada isu tata kelola pemerintahan, stabilitas sosial-politik, dan kebijakan publik.
Kombinasi antara pengalaman tempur di lapangan, pencapaian akademik, dan wawasan multidisipliner menjadikan Mayor Zulfikar representasi perwira modern TNI tangguh di lapangan, kuat dalam analisis, serta adaptif terhadap perubahan lingkungan strategis global.
Keberhasilannya di CGSC menjadi simbol bahwa pembangunan kekuatan pertahanan tidak hanya ditentukan oleh modernisasi alutsista, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang unggul.
Dalam sosok Mayor Inf Dr. Zulfikar Rakita Dewa, publik melihat gambaran tentang generasi baru perwira Indonesia, berkarakter, berintegritas, berwawasan global, dan siap menjawab tantangan masa depan.(Rls/voiceriau.com)







